tokobukumega.com

WHAT'S NEW?
Loading...

KOMUNITAS SEBAGAI PENDIDIKAN ALTERNATIF



 Pendidikan berfungsi membantu peserta didik (siswa) dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya.

            Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan atau nilai-nilai untuk melatihkan keterampilan. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan apa yang secara potensial dan aktual telah dimiliki peserta didik, sebab peserta didik bukanlah gelas kosong yang harus diisi dari luar. Mereka telah memiliki sesuatu, sedikit atau banyak, telah berkembang (teraktualisasi) atau sama sekali masih kuncup (potensial).

            Peran pendidik adalah mengaktualkan yang masih kuncup dan mengembangkan lebih lanjut apa yang baru sedikit atau baru sebagian teraktualisasi, semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang ada.

            Peserta didik (siswa) juga memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang sendiri. Dalam interaksi pendidikan peserta didik tidak selalu harus diberi atau dilatih, mereka dapat mencari, menemukan, memecahkan masalah dan melatih dirinya sendiri.

            Peserta didik disini merujuk kepada usia remaja. Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan gejolak. Masa remaja juga rentan dengan berbagai permasalahan yang cukup kompleks dan pelik. Sebab, dimasa inilah seseorang bertumbuh dan menjalani saat mencari jati diri untuk membentuk karakter kepribadian.


Salah satu penyebab terjadinya penyimpangan sosial, kegalauan, kekhawatiran dan kecemasan akan masa depannya merupakan hasil dari kurang perhatiannya seseorang dalam

membangun tujuan hidupnya, paradigma membangun karir hanyalah sekedar upaya menduduki posisi jabatan dalam pekerjaan tertentu itu telah menyempitkan dan membatasi cara berpikir dan upaya kita untuk berkembang, karena untuk mendapati posisi/jabatan yang tinggi itu hanya dikhususkan kepada mereka yang memiliki pendidikan yang tinggi saja atau bagi mereka yang mempunyai kekayaan materi dan kekuasaan semata.

Oleh karena itu Career Quotient Community (Komunitas Karir) ini dibangun untuk merubah paradigma tersebut menjadi lebih luas lagi. Career Quotient Community ini merupakan Sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengubah paradigma tentang KARIR kepada masyarakat khusus-nya para pemuda/pelajar dari SD-SMP-SMA-MAHASISWA, bahwa Karir bukan sekedar mengenai urutan-urutan posisi dalam sebuah pekerjaan. Tetapi karir merupakan bagian dari perjalanan hidup seseorang, bahkan merupakan suatu tujuan hidup yang perlu direncanakan.

Disini kami membuka ruang untuk mengembangkan diri, mengenal berbagai profesi, membuka peluang kerja & usaha, menjadi seorang pribadi yang berkarakter sukses dan penuh kemuliaan.


Menurut Yusuf (2004), kematangan emosi remaja ditandai oleh dua hal. Pertama, adekuasi emosi, yaitu adanya cinta kasih, simpati, altruis (senang menolong orang lain), respek (sikap hormat atau menghargai orang lain), dan ramah. Kedua, pengendalian emosi yang ditandai dengan sikap tidak mudah tersinggung, tidak agresif, bersikap optimis dan tidak pesimis (putus asa), serta dapat menghadapi situasi frustasi secara wajar.
            Menurut Overstreet (Schneiders, 1995), ada enam aspek untuk menilai kematangan emosi seseorang, yaitu:
a.      Sikap untuk Belajar
Bersikap terbuka untuk menambah pengetahuan dari pengalaman hidupnya. Artinya, individu yang matang secara emosi, mampu mengambil pelajaran dari pengalaman hidup diri sendiri dan pengalaman orang disekitar untuk kemudian digunakan dalam menjalani kehidupannya.

b.      Memiliki Rasa Tanggung Jawab
Berani menanggung risiko setelah mengambil suatu keputusan atau melakukan suatu tindakan. Individu yang matang, tahu bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

c.       Memiliki Kemampuan untuk Berkomunikasi dengan Efektif
Artinya, adanya kemampuan untuk mengatakan apa yang hendak dikemukakan dan mampu mengatakannya dengan percaya diri, tepat dan peka akan situasi.


d.      Memiliki Kemampuan untuk Menjalin Hubungan Sosial
Individu yang matang mampu melihat kebutuhan individu lain dan memberikan potensi dirinya untuk dibagikan kepada individu lain yang membutuhkan. Individu yang matang mampu menunjukkan ekspresi cintanya dan mampu menerima cinta dari individu lain.

e.       Beralih dari Egosentrisme ke Sosiosentrisme
Artinya, individu mampu melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok. Individu mengembangkan hubungan afeksi, saling mendukung, dan bekerja sama. Untuk itu, diperlukan adanya empati, sehingga dapat memahami perasaan individu lain.

f.       Falsafah Hidup yang Terintegrasi
Hal ini berhubungan dengan cara berpikir individu yang matang dan bersifat menyeluruh, yaitu memperhatikan fakta-fakta tertentu secara tersendiri dan menggabungkannya untuk melihat arti keseluruhan yang muncul. Dengan demikian, tindakan sekarang dan rencana masa depan dibuat dengan berbagai pertimbangan, didasarkan pada penilaian yang objektif dan terlepas dari prasangka.
            Perlunya membangun sebuah wadah dan program untuk dapat mengembangkan potensi seorang remaja, sehingga dapat membantu terbentuknya nilai-nilai kematangan emosi seperti yang telah diterangkan diatas.  



0 komentar:

Posting Komentar