tokobukumega.com

WHAT'S NEW?
Loading...

MENJADI SEORANG FOLLOWER ATAU LEADER?

Siapa yang BERANI??? Siapa yang berani jika disuruh berdiri dan berbicara di depan publik??? Apakah Anda salah satu yang menundukkan kepala (pura-pura fokus membaca sesuatu?!) atau melihat kearah yang lain atau langsung bergerak mundur terus mampret ke toilet?

Kebanyakan dari kita cenderung bersikap pasif dalam bertindak namun otak kita begitu aktif mencari-cari alasan untuk mendapatkan alibi yang pas agar ketidakberaniannya tertutupi. Nah loh~ iyahkan~ ayo ngakuuu~ ngaku dong~ biar saya ada temennya~ soalnya saya juga orangnya gituu~ XDD

Sebenarnya saya sedang mencari tahu kenapa kebanyakan orang lebih memilih bersikap pasif dalam bertindak cenderung mengikuti keputusan orang lain atau menunjuk-nunjuk orang untuk segera membuat keputusan namun begitu aktif dalam mencari-cari alasan. Apakah ini dikarenakan sistem pendidikan kita yang
tujuannya cenderung mempersiapkan diri kita untuk siap kerja (menjadi karyawan) sehingga secara tidak disadari melatih kita untuk menjadi seorang follower (pengikut)?

Yah~ yang mengenai keahlian mencari-cari alasan saya belajar dari tayangan favorit saya di NET. Yaitu 86 selain mengharapkan melihat POLWAN yang kece~kece~>o</ saya pun merasa aneh kenapa kebanyakan masyarakat cenderung melakukan pelanggaran namun ketika ditanya kesalahannya mereka begitu lihai mencari-cari alasan bahkan ketika ketahuan salah pun mereka masih mempertahankan diri dengan ‘PD-nya’ jika alasan yang mereka lakukan benar. Kemanakah perginya budaya malu dan rasa menghargai antar pengguna jalan dinegeri ini? Dimanakah jiwa kepemimpinan yang bijak dan tegas terhadap kebenaran didalam diri?

                Jadi ada dimana letak kesalahan yang menjadikan masyarakat bersikap seperti itu? LINGKUNGANKAH? POLA ASUH ORANG TUA KAH? SISTEM PENDIDIKANKAH? ATAU CAMPURAN DARI KETIGA HAL TERSEBUT? ATAU ADA HAL LAINNYA?

                Jika sudah menemukan letak kesalahannya APAKAH KITA BERANI UNTUK MENGUBAH KESALAHAN TERSEBUT? Dan sebelum ke orang lain APAKAH KITA BERANI UNTUK MENGUBAH DIRI KITA SENDIRI???
...

KEHIDUPAN YANG BELUM DIPAHAMI

Kebahagiaan adalah kunci kehidupan. Namun apakah kita sudah diberitahu dan diajarkan bagaimana caranya berbahagia sejak kecil?... Yah~ setiap orang memiliki pendapat dan pandangan tersendiri mengenai kebahagiaan, begitu juga dengan orang tua kita memiliki pemikiran tersendiri mengenai kebahagiaan. Lalu apakah kita melihat kebahagiaan dalam kehidupan orang tua kita? Dan apa yang diajarkan orang tua kita mengenai kebahagiaan? Jawabannya tergantung Anda memahami kebahagiaan itu sendiri. Yang jelas ada indikator-indikator tertentu yang mampu menjadikan diri kita merasa bahagia, misalnya seperti mendapatkan cinta, berbagi kasih-sayang, memiliki pekerjaan, mendapatkan gaji, berada diposisi eksekutif, mempunyai kekayaan yang berlimpah dan lain sebagainya yang pada dasarnya merupakan sesuatu yang dapat membuat seseorang merasa bahagia.

Penyebab kebahagiaan seseorang bisa saja berbeda dan bisa saja diperdebatkan, “ah kamu mah muluk-muluk” “ah kamu mah terlalu sederhana” “ah masa sih dengan begitu bisa bahagia?”

Namun, jika seseorang itu benar-benar bahagia ia tidak akan mengurusi perbedaan itu karena ia sedang menikmati kebahagiaan hidupnya sendiri. Yah~ jika sedang berbahagia ngapain juga memikirkan dan mengurusi hal-hal negatif, mendingan berbagi kebahagiaan dalam balutan rasa cinta dan kasih.

Nah, bagi yang masih memikirkan dan memperdebatkan kebahagiaan sudah dipastikan ia masih berada dalam kebingungan. Masih galau dengan apa yang sudah dimiliki dan dengan yang belum dimilikinya.

Jika kebahagiaan adalah tujuan hidup kita maka mengapa orang tua dan sekolah tidak mengajarkan materi pelajaran mengenai hidup bahagia?
Mengapa sekolah mengajarkan hal-hal yang membingungkan yang pada akhirnya kita akan melupakan pelajaran itu setelah ujian akhir selesai?

Jika akhir dari masa wajib belajar 12 tahun adalah bekerja dan mencari uang, mengapa kita tidak diajarkan mengenai mengelola dan menghasilkan uang disekolah?

KOMUNITAS SEBAGAI PENDIDIKAN ALTERNATIF



 Pendidikan berfungsi membantu peserta didik (siswa) dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya.

            Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan atau nilai-nilai untuk melatihkan keterampilan. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan apa yang secara potensial dan aktual telah dimiliki peserta didik, sebab peserta didik bukanlah gelas kosong yang harus diisi dari luar. Mereka telah memiliki sesuatu, sedikit atau banyak, telah berkembang (teraktualisasi) atau sama sekali masih kuncup (potensial).

            Peran pendidik adalah mengaktualkan yang masih kuncup dan mengembangkan lebih lanjut apa yang baru sedikit atau baru sebagian teraktualisasi, semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang ada.

            Peserta didik (siswa) juga memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang sendiri. Dalam interaksi pendidikan peserta didik tidak selalu harus diberi atau dilatih, mereka dapat mencari, menemukan, memecahkan masalah dan melatih dirinya sendiri.

            Peserta didik disini merujuk kepada usia remaja. Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan gejolak. Masa remaja juga rentan dengan berbagai permasalahan yang cukup kompleks dan pelik. Sebab, dimasa inilah seseorang bertumbuh dan menjalani saat mencari jati diri untuk membentuk karakter kepribadian.


Salah satu penyebab terjadinya penyimpangan sosial, kegalauan, kekhawatiran dan kecemasan akan masa depannya merupakan hasil dari kurang perhatiannya seseorang dalam

membangun tujuan hidupnya, paradigma membangun karir hanyalah sekedar upaya menduduki posisi jabatan dalam pekerjaan tertentu itu telah menyempitkan dan membatasi cara berpikir dan upaya kita untuk berkembang, karena untuk mendapati posisi/jabatan yang tinggi itu hanya dikhususkan kepada mereka yang memiliki pendidikan yang tinggi saja atau bagi mereka yang mempunyai kekayaan materi dan kekuasaan semata.

Oleh karena itu Career Quotient Community (Komunitas Karir) ini dibangun untuk merubah paradigma tersebut menjadi lebih luas lagi. Career Quotient Community ini merupakan Sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengubah paradigma tentang KARIR kepada masyarakat khusus-nya para pemuda/pelajar dari SD-SMP-SMA-MAHASISWA, bahwa Karir bukan sekedar mengenai urutan-urutan posisi dalam sebuah pekerjaan. Tetapi karir merupakan bagian dari perjalanan hidup seseorang, bahkan merupakan suatu tujuan hidup yang perlu direncanakan.

Disini kami membuka ruang untuk mengembangkan diri, mengenal berbagai profesi, membuka peluang kerja & usaha, menjadi seorang pribadi yang berkarakter sukses dan penuh kemuliaan.


Menurut Yusuf (2004), kematangan emosi remaja ditandai oleh dua hal. Pertama, adekuasi emosi, yaitu adanya cinta kasih, simpati, altruis (senang menolong orang lain), respek (sikap hormat atau menghargai orang lain), dan ramah. Kedua, pengendalian emosi yang ditandai dengan sikap tidak mudah tersinggung, tidak agresif, bersikap optimis dan tidak pesimis (putus asa), serta dapat menghadapi situasi frustasi secara wajar.
            Menurut Overstreet (Schneiders, 1995), ada enam aspek untuk menilai kematangan emosi seseorang, yaitu:
a.      Sikap untuk Belajar
Bersikap terbuka untuk menambah pengetahuan dari pengalaman hidupnya. Artinya, individu yang matang secara emosi, mampu mengambil pelajaran dari pengalaman hidup diri sendiri dan pengalaman orang disekitar untuk kemudian digunakan dalam menjalani kehidupannya.

b.      Memiliki Rasa Tanggung Jawab
Berani menanggung risiko setelah mengambil suatu keputusan atau melakukan suatu tindakan. Individu yang matang, tahu bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

c.       Memiliki Kemampuan untuk Berkomunikasi dengan Efektif
Artinya, adanya kemampuan untuk mengatakan apa yang hendak dikemukakan dan mampu mengatakannya dengan percaya diri, tepat dan peka akan situasi.


d.      Memiliki Kemampuan untuk Menjalin Hubungan Sosial
Individu yang matang mampu melihat kebutuhan individu lain dan memberikan potensi dirinya untuk dibagikan kepada individu lain yang membutuhkan. Individu yang matang mampu menunjukkan ekspresi cintanya dan mampu menerima cinta dari individu lain.

e.       Beralih dari Egosentrisme ke Sosiosentrisme
Artinya, individu mampu melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok. Individu mengembangkan hubungan afeksi, saling mendukung, dan bekerja sama. Untuk itu, diperlukan adanya empati, sehingga dapat memahami perasaan individu lain.

f.       Falsafah Hidup yang Terintegrasi
Hal ini berhubungan dengan cara berpikir individu yang matang dan bersifat menyeluruh, yaitu memperhatikan fakta-fakta tertentu secara tersendiri dan menggabungkannya untuk melihat arti keseluruhan yang muncul. Dengan demikian, tindakan sekarang dan rencana masa depan dibuat dengan berbagai pertimbangan, didasarkan pada penilaian yang objektif dan terlepas dari prasangka.
            Perlunya membangun sebuah wadah dan program untuk dapat mengembangkan potensi seorang remaja, sehingga dapat membantu terbentuknya nilai-nilai kematangan emosi seperti yang telah diterangkan diatas.