KOMUNITAS SEBAGAI PENDIDIKAN ALTERNATIF
Pendidikan berfungsi membantu
peserta didik (siswa) dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua
potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik
bagi dirinya maupun lingkungannya.
Pendidikan
bukan sekedar memberikan pengetahuan atau nilai-nilai untuk melatihkan
keterampilan. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan apa yang secara
potensial dan aktual telah dimiliki peserta didik, sebab peserta didik bukanlah
gelas kosong yang harus diisi dari luar. Mereka telah memiliki sesuatu, sedikit
atau banyak, telah berkembang (teraktualisasi) atau sama sekali masih kuncup
(potensial).
Peran
pendidik adalah mengaktualkan yang masih kuncup dan mengembangkan lebih lanjut
apa yang baru sedikit atau baru sebagian teraktualisasi, semaksimal mungkin
sesuai dengan kondisi yang ada.
Peserta
didik (siswa) juga memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang sendiri.
Dalam interaksi pendidikan peserta didik tidak selalu harus diberi atau
dilatih, mereka dapat mencari, menemukan, memecahkan masalah dan melatih
dirinya sendiri.
Peserta
didik disini merujuk kepada usia remaja. Masa remaja merupakan masa yang penuh
dengan gejolak. Masa remaja juga rentan dengan berbagai permasalahan yang cukup
kompleks dan pelik. Sebab, dimasa inilah seseorang bertumbuh dan menjalani saat
mencari jati diri untuk membentuk karakter kepribadian.
Salah satu penyebab terjadinya
penyimpangan sosial, kegalauan, kekhawatiran dan kecemasan akan masa depannya
merupakan hasil dari kurang perhatiannya seseorang dalam
membangun tujuan hidupnya, paradigma membangun karir
hanyalah sekedar upaya menduduki posisi jabatan dalam pekerjaan tertentu itu
telah menyempitkan dan membatasi cara berpikir dan upaya kita untuk berkembang,
karena untuk mendapati posisi/jabatan yang tinggi itu hanya dikhususkan kepada
mereka yang memiliki pendidikan yang tinggi saja atau bagi mereka yang
mempunyai kekayaan materi dan kekuasaan semata.
Oleh karena itu Career Quotient
Community (Komunitas Karir) ini dibangun untuk merubah paradigma tersebut
menjadi lebih luas lagi. Career Quotient Community ini merupakan
Sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengubah paradigma tentang KARIR kepada
masyarakat khusus-nya para pemuda/pelajar dari SD-SMP-SMA-MAHASISWA, bahwa
Karir bukan sekedar mengenai urutan-urutan posisi dalam sebuah pekerjaan.
Tetapi karir merupakan bagian dari perjalanan hidup seseorang, bahkan merupakan
suatu tujuan hidup yang perlu direncanakan.
Disini kami membuka ruang untuk
mengembangkan diri, mengenal berbagai profesi, membuka peluang kerja &
usaha, menjadi seorang pribadi yang berkarakter sukses dan penuh kemuliaan.
Menurut Yusuf (2004), kematangan
emosi remaja ditandai oleh dua hal. Pertama,
adekuasi emosi, yaitu adanya
cinta kasih, simpati, altruis (senang
menolong orang lain), respek (sikap hormat atau menghargai orang lain), dan
ramah. Kedua, pengendalian emosi yang
ditandai dengan sikap tidak mudah tersinggung, tidak agresif, bersikap optimis
dan tidak pesimis (putus asa), serta dapat menghadapi situasi frustasi secara
wajar.
Menurut
Overstreet (Schneiders, 1995), ada
enam aspek untuk menilai kematangan emosi seseorang, yaitu:
a.
Sikap untuk Belajar
Bersikap terbuka
untuk menambah pengetahuan dari pengalaman hidupnya. Artinya, individu yang
matang secara emosi, mampu mengambil pelajaran dari pengalaman hidup diri
sendiri dan pengalaman orang disekitar untuk kemudian digunakan dalam menjalani
kehidupannya.
b.
Memiliki Rasa Tanggung Jawab
Berani menanggung
risiko setelah mengambil suatu keputusan atau melakukan suatu tindakan.
Individu yang matang, tahu bahwa setiap orang bertanggung jawab atas
kehidupannya sendiri.
c.
Memiliki Kemampuan untuk Berkomunikasi dengan Efektif
Artinya, adanya kemampuan untuk mengatakan apa yang hendak dikemukakan dan
mampu mengatakannya dengan percaya diri, tepat dan peka akan situasi.
d. Memiliki Kemampuan untuk
Menjalin Hubungan Sosial
Individu yang matang mampu melihat
kebutuhan individu lain dan memberikan potensi dirinya untuk dibagikan kepada
individu lain yang membutuhkan. Individu yang matang mampu menunjukkan ekspresi
cintanya dan mampu menerima cinta dari individu lain.
e.
Beralih dari Egosentrisme ke Sosiosentrisme
Artinya, individu mampu melihat dirinya
sebagai bagian dari kelompok. Individu mengembangkan hubungan afeksi, saling
mendukung, dan bekerja sama. Untuk itu, diperlukan adanya empati, sehingga
dapat memahami perasaan individu lain.
f.
Falsafah Hidup yang Terintegrasi
Hal ini berhubungan dengan cara berpikir individu yang matang dan bersifat
menyeluruh, yaitu memperhatikan fakta-fakta tertentu secara tersendiri dan
menggabungkannya untuk melihat arti keseluruhan yang muncul. Dengan demikian,
tindakan sekarang dan rencana masa depan dibuat dengan berbagai pertimbangan,
didasarkan pada penilaian yang objektif dan terlepas dari prasangka.
Perlunya membangun sebuah
wadah dan program untuk dapat mengembangkan potensi seorang remaja, sehingga
dapat membantu terbentuknya nilai-nilai kematangan emosi seperti yang telah
diterangkan diatas.